Fenomena gerhana matahari total dipastikan bakal terjadi pada 12 Agustus 2026 mendatang. Peristiwa langka ini terjadi saat Bulan melintas tepat di antara Matahari dan Bumi, sehingga menutupi seluruh cahaya Matahari secara sempurna. Banyak orang mengira gerhana total terjadi setiap bulan karena Bulan mengorbit Bumi dalam waktu sekitar 30 hari, namun kenyataannya tidak demikian.
Fakta menariknya, satu titik di permukaan Bumi hanya bisa menyaksikan gerhana matahari total rata-rata sekali dalam 375 tahun. Kelangkaan ini disebabkan oleh orbit Bulan yang miring terhadap ekuator Bumi, sehingga bayangan Bulan kerap meleset dari planet kita. Bayangan baru mencapai permukaan Bumi saat posisi Bulan berada dalam kesejajaran sempurna dengan Matahari dan Bumi.
Related Stories
Stay Updated on Gaming & Sports News
Get the latest game releases, esports tournaments, and sports updates delivered straight to your inbox. Free and exclusive content for gaming and sports enthusiasts!
SubscribeSelain faktor kemiringan orbit, jarak Bulan ke Bumi juga terus berubah karena lintasannya yang berbentuk elips. Jarak tersebut bervariasi mulai dari sekitar 354.000 kilometer saat terdekat hingga 402.000 kilometer saat terjauh. Ketika Bulan berada pada titik terjauh, ukuran tampaknya lebih kecil di langit sehingga tidak mampu menutupi seluruh piringan Matahari, dan inilah yang menyebabkan terjadinya gerhana cincin atau annular eclipse.
Faktor lain yang membuat gerhana total makin langka adalah sebagian besar permukaan Bumi terdiri dari lautan, sekitar 70 persen. Akibatnya, jalur gerhana kerap melewati wilayah perairan terbuka. Bahkan ketika jalur gerhana melintasi daratan, kondisi awan masih bisa menghalangi pandangan dan membuat pengamat kehilangan momen langka tersebut.
Cara Aman Melihat Gerhana Total Tanpa Alat Khusus
Bagi masyarakat yang berencana menyaksikan gerhana matahari total 2026, NASA mengingatkan agar tidak pernah melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus. "Melihat bagian mana pun dari Matahari yang terang melalui lensa kamera, teropong, atau teleskop tanpa filter surya khusus yang terpasang di bagian depan optik akan langsung menyebabkan cedera mata serius," demikian pernyataan resmi badan antariksa AS tersebut.
Sinar Matahari cukup terang untuk merusak sel-sel retina dalam hitungan detik. Oleh karena itu, penggunaan kacamata khusus gerhana matahari dan teleskop dengan filter surya yang tepat menjadi keharusan. Alat-alat tersebut dirancang untuk meredam cahaya Matahari ke tingkat yang aman, sehingga masyarakat bisa menikmati fenomena langka ini tanpa risiko kerusakan mata permanen.
Selain menggunakan kacamata gerhana dan filter surya, ada metode sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk mengamati gerhana secara tidak langsung. Metode proyeksi lubang jarum misalnya, dapat dibuat dengan melubangi kertas karton dan memproyeksikan bayangan Matahari ke permukaan datar.
Metode proyeksi ini sangat aman karena pengamat tidak perlu menatap Matahari secara langsung. Cukup dengan membelakangi Matahari dan membiarkan sinar melewati lubang kecil, bayangan gerhana akan tampak jelas di atas kertas atau tanah di bawahnya.