Berdasarkan laporan ZDNET, perkembangan pesat agen kecerdasan buatan atau AI agent di lingkungan kerja modern mulai mengubah standar kompetensi profesional secara drastis. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dikerjakan secara manual oleh tenaga ahli kini bergeser ke sistem otonom, memicu perdebatan mengenai peran krusial apa yang harus diisi oleh manusia di masa depan.
Meskipun ada konsensus bahwa teknologi ini berdampak besar pada operasional bisnis, para pemimpin industri sepakat bahwa masa depan kerja menuntut keseimbangan antara keahlian manusia dan kemampuan AI. Sebagaimana diwartakan oleh Workday, pemanfaatan AI agent memperkuat potensi pekerja untuk berfungsi layaknya polymath atau individu yang menguasai berbagai bidang.
Related Stories
Stay Updated on Gaming & Sports News
Get the latest game releases, esports tournaments, and sports updates delivered straight to your inbox. Free and exclusive content for gaming and sports enthusiasts!
SubscribeKonsep polymath merujuk pada era di mana permintaan tenaga kerja bergeser dari spesialis yang hanya memahami satu domain tunggal menuju profesional dengan wawasan lintas disiplin ilmu. Kathy Pham selaku Vice President of AI di Workday mengungkapkan bahwa pekerja yang mampu berkolaborasi dengan AI di berbagai area sekaligus akan menjadi kunci utama efisiensi perusahaan.
Dalam pandangan para pemimpin bisnis, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi serta kepercayaan diri untuk mengambil keputusan strategis yang tidak bisa dilakukan oleh AI merupakan karakteristik utama yang harus dimiliki pekerja. Chris Kairinos dari A+E Global Media mengibaratkan pengembangan keterampilan di era AI seperti bermain alat musik yang tombolnya terus bertambah secara dinamis.
Sementara itu, David Minahan selaku Director of Digital, Data, and Technology di Young Lives vs. Cancer berpendapat bahwa generalis terlalu luas, namun spesialis ketat sudah tidak lagi relevan bagi sebagian besar perusahaan. Ia memilih strategi menciptakan versatilists, yakni para profesional yang nyaman menerapkan keterampilan lintas fungsi untuk mendukung transformasi digital.
Di sisi lain, Ankur Anand selaku Group CIO di Harvey Nash menilai bahwa profesional terbaik justru menggunakan AI untuk memperluas keahlian spesifik mereka alih-alih sekadar menjadi generalis serba tahu. Keahlian mendalam tetap dibutuhkan agar pekerja memiliki landasan kuat untuk mengarahkan, mengoreksi, dan mengawasi hasil kerja dari AI agent agar tidak keliru.