Misi pemburu eksoplanet terbaru NASA, Pandora, yang diluncurkan awal tahun ini akhirnya resmi memulai operasi sainsnya. Setelah menjalani fase komisioning selama beberapa bulan untuk memeriksa seluruh sistem, observatorium luar angkasa ini kini mulai mempelajari dunia asing di luar tata surya kita beserta bintang induknya.
Pada 25 Agustus lalu, NASA mengumumkan dimulainya fase sains dari misi yang memiliki masa pakai utama selama satu tahun tersebut. Pandora diluncurkan pada 11 Januari dan tujuan utamanya adalah mengurai sinyal gas dari atmosfer planet dari sinyal yang berasal dari bintangnya.
Related Stories
Stay Updated on Gaming & Sports News
Get the latest game releases, esports tournaments, and sports updates delivered straight to your inbox. Free and exclusive content for gaming and sports enthusiasts!
SubscribeJordan Karburn, manajer proyek Pandora di Lawrence Livermore National Laboratory, California, menyatakan bahwa seluruh instrumen bekerja dengan sangat baik. "Pesawat ruang angkasa sehat dan semua instrumen berkinerja sebaik yang kami harapkan. Kerja keras tim selama proses komisioning membuahkan hasil, dan kami sekarang dapat memulai sains dengan percaya diri," ujarnya.
Teleskop ini akan menggunakan metode transit untuk mempelajari sifat atmosfer planet. Saat sebuah planet melintasi permukaan bintangnya, cahaya dari bintang melewati atmosfernya sebelum mencapai teleskop, dan cahaya ini membawa sinyal gas yang ada di atmosfer tersebut. Namun bintang tidak stabil, dan instrumen teleskop menerima cahaya dari seluruh permukaan bintang yang dapat mengacaukan sinyal atmosfer planet.
Detektor Sisa JWST Jadi Andalan Misi Pandora
Untuk menjalankan tugasnya, Pandora akan menggunakan teleskop berukuran 18 inci serta detektor cahaya tampak dan near-infrared. Menariknya, detektor near-infrared ini merupakan komponen cadangan yang awalnya dibuat untuk James Webb Space Telescope namun kini dimanfaatkan untuk misi yang dikembangkan di bawah program Astrophysics Pioneers NASA.
Program ini mendanai misi berbiaya rendah dengan toleransi kegagalan yang lebih tinggi dari biasanya. Benjamin Rackham, anggota tim dari Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, menjelaskan bahwa air adalah molekul terpenting untuk memahami komposisi dan kondisi fisik atmosfer eksoplanet.
"Air adalah salah satu molekul terpenting yang dapat kita ukur untuk memahami komposisi dan kondisi fisik atmosfer eksoplanet," ujar Benjamin Rackham. "Namun fitur pada bintang dapat mendistorsi sinyal air yang kita cari. Pandora dirancang untuk memisahkan sinyal dari planet dan bintang, membantu kita memahami planet dengan lebih akurat dan meletakkan dasar untuk studi planet yang berpotensi menampung kehidupan."
Selama tahun pertama pengamatannya, Pandora akan mempelajari setidaknya 20 eksoplanet sebanyak 10 kali dengan pengamatan durasi panjang hingga 24 jam. Durasi ini jauh lebih lama dibandingkan yang biasa dilakukan observatorium seperti Webb terhadap satu target.